Jumat, 23 Desember 2011

Sepucuk Surat Untuk Hati Kecil Yang Bersedih




Kutulis surat usang ini untukmu duhai hati yang sedang bersedih. Untuk hati yang jerih bercinta lagi. Demi hati yang sering merasa sendiri. Hati dari seseorang yang baru bisa didekati setelah lama hanya bisa bermimpi. Ah, aku tidaklah pandai merayu. Tidakpula pandai menghiburmu. Karena aku tahu aku hanyalah seorang asing. Asing yang tidak pandai berkata-kata dan mengusapkan jarinya untuk menghapus air matamu. Maka sungguh pandanglah surat ini sebagai penebus. Penebus? Ya penebus akan ketidak mampuanku. Penebus akan absensi ku. Penebus akan fakta bahwa aku hanya mampu memberikan berderet-deret tulisan tanpa kehadiran langsung ragaku.
Duhai hati. Aku bertanya kepadamu yang sedang bersedih. Bersedih akan kehilangan. Kehilangan dirinya. Yah aku tahu fakta yang membuat air mata itu menggenang di pelupuk matamu. Aku disini bukanlah untuk mengukur dan menebak seberapa dalam kesedihanmu. Sungguh aku tidaklah mampu mengukur itu. Seberapa hebatnya aku dalam ilmu ukur sekalipun aku tetaplah tidak mampu. Aku hanya ingin mengingatkan sesuatu kepadamu. Tentang suatu hal yang dinamakan siklus. Perputaran kehidupan. Dua sisi yang berlawananan. Sama seperti gelap melawan terang. Maka sisi-sisi itu akanlah selalu ada. Berulang-ulang terjadi silih berganti. Maka izinkanlah untuk kali ini aku sedikit bercerita. Bercerita untuk mu. Bercerita tentang datang dan pergi.
Tahukah kamu bahwa suka atau tidak, cepat atau lambat, maka kita selalu mendapatkan kebalikan dari apa yang kita punya. Semua hal dalam hidup yang singkat ini hanyalah berdasarkan hukum itu. Cantik dan buruk rupa. Kaya dan miskin harta. Pandai dan bebal otaknya. Hukum itulah yang selalu didengungkan oleh berbagai pujangga dari zaman lama. Aku tahu ini lagu tua, seringkali kau dengar pula. Tapi apakah kau sadar wahai hati? Bahwa itu juga terjadi untuk pergi dan terganti kedatangan baru lagi. Kita sering kali (atau malah selalu) bersedih karena kehilangan dan kepergian. Yah aku tahu itu, sangat paham malah. Bukankah selalu menyakitkan kehilangan orang yang telah datang dan memberi warna dalam hidup ini. Selalu mengiris saat tahu bahwa tiba-tiba mereka telah pergi. Terkadang malah tanpa alasan sama sekali. Laksana penyulap yang tiba-tiba mengeluarkan merpati dari saputangannya. Begitu pula kepergian itu, terjadi begitu saja layaknya sulap biasa. Tapi aku mau engkau mengingat wahai hati, ingatlah satu hal dari pertanyaan ku ini. Saat sesuatu itu datang dan berada di genggaman, apakah itu datang dengan suatu alasan? Orang cerdik pandai sering membantah dan menjawab dengan pongahnya, “iya saya dapatkan itu dengan usaha dan tenaga. Jadi wajarlah pula sesuatu itu datang kepadaku!”
Tapi lupakah kita bahwa adakalanya kita mendapatkan suatu hal tanpa alasan sama sekali. Ambil contoh dalam hal jatuh cinta. Iya cinta yang berbait-bait ditembangkan, ditulis dalam manuskrip-manuskrip tua, menciptakan pujangga-pujangga abadi sepangjang massa. Apakah cinta itu datang dengan alasan? Mungkin engkau ingin meniru kata-kata orang yang mengatakan, iya aku cinta dia karena fisiknya yang menarik. Atau karena kepandaiannya. Atau pula malah karena kebaikannya. Tapi apakah engkau lupa satu hal? Apakah hatimu benar-benar bisa mendeskripsikan kenapa engkau jatuh cinta dengannya? Sadarkah engkau, bahwa terlepas dari kebaikan, kepandaian, fisiknya maka engkau merasa jatuh cinta kepadanya karena sesuatu hal yang tidak bisa dimengerti. Tiba-tiba saja kok bisa engkau tersipu malu hanya dengan mengingat namanya? Bagaimana bisa engkau memangkukan tangan terpana hanya karena melihat sosoknya dari kejauhan saja? Bagaimana bisa engkau sumringah, buncah oleh perasaan bahagia hanya karena satu dua katanya dalam pesan singkat yang baru saja engkau terima darinya? Apakah engkau sungguh mengerti kenapa engkau bisa bertingkah ganjil seperti itu?
Aku yakin seyakin-yakinnya. Bahwa engkau tidak tahu alasan itu. Yang engkau tahu hanyalah bahwa engkau sedang jatuh cinta. Tanpa alasan tiba-tiba saja datang hinggap dan membelit erat sebegitu kuatnya. Tidak percaya? Duhai hati lihat lah baik-baik ke zaman-zaman dibelakangmu. Apakah engkau bisa menghitung berapa juta arti, berapa juta larik puisi, berapa juta catatan torehan hati yang menyangkut akan jatuh cinta dari berbagai filsuf, pujangga, ilmuwan, raja, sufi bahkan orang miskin hina sekalipun. Semuanya mendeskripsikan kenapa jatuh cinta dengan bahasanya sendiri-sendiri dan bagaimana bisa hal itu terjadi? Karena semua orang tidak pernah tahu alasan jatuh cinta. Mereka hanya tahu dan menikmati kedatangannya. Tidak lebih. Tidak kurang.
Nah satu hal yang harus engkau ingat adalah satu fakta bahwa kedatangan jatuh cinta itu akan dipisahkan oleh kepergian. Dan sebagaimana hal yang terjadi dengan kedatangan jatuh cinta. Maka alasan kepergiannya pun tidak dimengerti. Ah, disini aku tidak mau berdebat tentang apa alasan kepergian itu (toh bisa saja karena sakit, khianat murah karena tergoda “barang” lain yang lebih terlihat mulus rupa, atau malah karena kesepakatan tertentu..seribu satu alasan ada untuk itu). Aku hanya ingin engkau mencoba ingat lagi. Ingat bahwa datang itu pasti disusul oleh pergi (dan pergipun akan disusul lagi oleh datang yang baru lagu). Sama sederhananya seperti bayi yang pastinya akan berubah menjadi dewasa dan mati (bahkan manusia pun datang dan akhirnya pergi bukan?). Ingatlah satu hal bahwa, HAL ITU TIDAKLAH TERELAKKAN. Pasti terjadi! Pasti menghantam diri. Dan sungguh, sungguh aku tidak mau berdebat akan alasan itu terjadi. Aku hanya ingin mengingatkan bahwa, sebagaimana kita menikmati suatu kedatangan (mempestakannya malah) maka nikmati pula kepergian. Nikmatilah dengan cara yang sama tapi sedikit berbeda seperti kedatangan. Satu cara yang diajarkan oleh pak haji di televisi, ikhlas saja itulah kuncinya.
Ingatlah bahwa engkau selalu ikhlas akan kedatangan sesuatu yang baik bukan? Entahlah apakah itu kedatangan nasib baik, kedatangan harta, atau kedatangan orang yang dicinta sekalipun. Engkau ikhlas akan kedatangannya. Dan bersuka ria. Maka ingatlah bahwa engkau pun harus ikhlas akan kepergian. Entahlah apakah itu kepergian nasib buruk, kepergian harta, atau kepergian orang yang dicinta sekalipun. Engkau ikhlas akan kedatangannya. Dan sedikit berbeda dengan kedatangan, maka engkau tidaklah bersuka ria, tetapi mafhum dan menyadari bahwa waktu kepergian memang sudah tiba. Waktu untuk kepergian dan melepas. Melepas sesuatu yang memang bukan milik kita (karena bukankah faktanya semua hanya titipan_Nya? Jadi bagaimana pula kita bisa mengeluh untuk semua hal yang jelas-jelas bukan milik kita?).
Aku ingin engkau percaya bahwa hal itu sesederhana ini. S-E-D-E-R-H-A-N-A. Hati kitalah yang memperumitnya. Memperumit dengan suatu bantahan yang selalu keluar, bantahan yang intinya menyangkal bahwa kepergian itu terjadi. Kenapa? Bagaimana bisa? Apa yang salah? Sungguh duhai hati. Tidak ada alasan lebih. Tidak ada pula ada yang salah. Sesungguhnya semua terjadi karena memang sudah waktunya. Memang waktunya bahwa pergi itu akan datang. Maka bersyukurlah, berdoalah, mintalah kekuatan dari_Nya dan relakanlah. Karena waktunya memang sudah tiba. Waktu untuk kepergian itu datang memangku jiwa.
Maka percayalah wahai hati yang bersedih. Yakinlah duhai hati yang sering merasa sendiri. Relakanlah oh hati yang jerih untuk bercinta lagi. Bahwa siklus itu selalu terjadi, berkebalikan. Dua sisi yang selalu berlawanan tapi pasti terjadi. Ingatlah bahwa hal itulah yang sesungguhnya menempa kita. Mengajarkan kepada kita arti untuk memperbaiki diri, mengajarkan kita kepada arti untuk selalu meresapi moment-moment yang terjadi, menikmati tiap detiknya, dan tidak menyia-nyiakannya. Karena cepat ataupun lambat maka itu akan terjadi. Terus berputar seperti roda pedati. Pesanku hanya satu wahai hati kecil yang sedang bersedih, saat sesuatu itu datang maka nikmatilah sebenar-benarnya. Syukuri semuanya. Karena engkau harus tahu bahwa sesuatu itu akan pergi juga akhirnya. Dan saat pergi itu datang wahai hati kecil yang sedang bersedih, maka relakanlah hal itu. Sunggingkan senyum dan yakinlah bahwa kepergian itu nanti akan digantikan oleh_Nya dengan suatu kedatangan kembali. Kedatangan yang jauh lebh indah dari awalnya. Jauh lebih berarti dari awal mula. Karena bukankah siklus itu selalu terulang. Beratus-ratus kali sampai kita tua dan mati. Jadi percayalah. Yakinlah. Tersenyumlah.
Yakinlah pula bahwa tuhan selalu tersenyum dengan caranya kepada kita. Mempersiapkan segala yang kita butuhkan dengan misteriusnya jalanNya. Jadi sekali-sekali wahai hati berhentilah bertanya, terimalah dengan lapang dada. Bersiaplah untuk rencana baru yang dipersiapkan oleh_Nya. Karena aku yakin, bahwa Dia tidak akan mempersiapkan hal yang buruk untuk makhlukNya, semuanya indah walau kita tidaklah tahu jelas jalan pikiranNya. Berhentilah bersedih. Semoga tulisan sederhana ini membuatmu bersemangat kembali. Sampai tua dan akhirnya juga “pergi”.Hanya inilah tulisan untuk mu wahai hati kecil, smoga bisa menebus keterbatasanku selama ini. Kelalaianku karena tida k bisa sering bersamamu. Izinkan untuk sementara tulisan ini menghiburmu. Sampai aku benar-benar bisa datang untukmu. Nanti saat takdir akan kedatanganku kembali dan ingat, ingatlah bahwa engkau sama sekali tidaklah sendiri. Sampai nanti wahai hati, sampai kita berjumpa kembali.

Selasa, 20 Desember 2011

Analisis Sosial


Analisis sosial adalah
Sebuah upaya untuk mendapatkan gambaran yang lebih lengkap tentang:
 a. Situasi sosial
b. Hubungan struktural
c. Kultural
d. Historis
Mengapa analis sosial itu perlu?
sehingga memungkinkan menangkap dan memahami realitas yang dihadapi .
  1. Identifikasi dan pemahaman masalah secara lebih seksama; melihat akar masalah dan ranting masalah.
  2. Mendalami potensi (kekuatan-kelemahan-peluang-tantangan) yang ada dalam komunitas.
  3. Membangun ukuran dengan lebih baik untuk kelompok yang dirugikan.
  4. Membangun prediksi berupa tindakan-tindakan sebagai upaya untuk mengubah. 
  5. Analisis sosial bukan suatu bentuk pemecahan masalah melainkan diagnosis yang bisa dijadikan acuan yang lengkap dalam pengambilan keputusan atau tindakan sebagai pemecahan yang tepat.
  6. Analisis sosial tidak netral (analisis sosial selalu berangkat dari komitmen)  
Pelaku analisis sosial
¢  Analisis sosial bukan milik kelompok tertentu.
¢  Analisis sosial dapat dilakukan oleh siapapun
¢  Analisis sosial akan mempunyai makna yang dalam jika dilakukan oleh mereka yang “terlibat langsung” sehingga dimungkinkan terjadi proses transformasi kesadaran.
Dimana posisi analisis sosial
Penolakan terhadap analisis sosial dilakukan oleh pihak yang pro kepada status quo. Mengapa? Analisis sosial memiliki bobot untuk mengubah (baca: mendorong proses perubahan). Jika demikian, analisis sosial merupakan salah satu simpul dalam siklus kerja transformasi. 

Reading Report : Bangsa yang Penuh Paradoks (Michael Kammen)


 BAGIAN I
SENANDUNG TAK TEREKAM

BAB I
Dunia lama dan dunia baru

Para peniliti watak kebudayaan amerika telah menyadari bebrapa persoalan dan problema yang berhubungan dengan asal mula amerika utara. Para ahli sejarah dalam mencari unsure-unsur unik dalam sejarah amerika. Abad 17 muncul berabagai buku yang mengaris bawahi aspek-aspek unik dari dunia baru it. Menurut pendapat sejarawan Amerika Daniel Boorstin, tiap pemikirtan dan lembaga yang dibawa oleh orang Eropa ke dunia nitu dirubah secara cepat oleh lingkungan yang sulit serta oleh keadaan-keadaan yang tak terduga. Tinjauan Boorstin mengenai asal mula kebudayaan  Amerika begitu dominan  dan berpengaruh sehingga ada baiknya membicarakan karyanya secara terperinci.
Kolonis-kolonis Amerika tidaklah berasal  dari Eropa , melainkan dari daerah-daerah yang khusus dari Eropa, seperti London, Ulster , Leyden , dan Bristol. Para ahli sejarah Amerika koloni telah menulis seolah-olah dunia lama waktu itu hampir seluruh nya bersifat kekotaan dan telah mencapai suatu tingkat peradaban yang tinggi, dan seolah-olah dunia baruitu tak lain hanyalah hutan rimba, keterbelakangan Sosial serta keadaan hidup yang sangat sulit. Meskipun benar bahwa kehidupan dihutan-hutan Rimba Amerika ncukup sukar. Bukti-bukti dari kaum pemukim awal menunjukan banyaknya daerah baik yang telah dibuka ataupun yang secara alamiah sesuai buat pertanian langsung. Kecenderungan orang Amerika untuk memandang diri mereka sebagai manusia praktis dan memandang orang Eropa sebagai idealis kaku.
 Abad ke-16 , masalah pokok negeri-negeri Eropa barat menyangkut besar nya kekuasaan yang harus di berikan kepada badan-badan legislative  tidak lah di anaggap sebagai suatu persoalan teoritis, melainkan suatu problema praktis. Kaum koloni Amerika yang praktis adalah keturunan orang Inggris yang idealis dan tidak praktis.
Menurut pendapat sejarawan Inggris Clayton Roberts , bangsa Inggris di abad ke -17 tak mempunyai rencana jangka panjang guna membina pemerintahan yang bertanggung jawab. Selama ini bangsa Amerika telah di ajari bahwa hanya sedikit pemikiran dan lembaga Eropa yang bisa bertahan di dunia baru, bahwa pemikiran murni dan sistematis sukar bernafas di Amerika dan bahwa hampir seluruh pemikiran dan nilai-nilai politik Eropa tidak sesuai dengan cara hidup Amerika.
Amerika tidak pernah mengalami berbagai konflik. Banyak imigran datang ke amerika sebagai suatu cara untuk menyatakan protes mereka terhadap keadaan kehidupan serta pemikiran di Inggris. Peradaban di amerika utara dan amerika selatan telah bertumbuh secara demikian berlainan, sulit untuk memastikan peranan khas apakah yang telah dimainkan oleh alam lingkungan dalam sejarah amerika serikat.
Di eropa selama abad ke-17 dan ke-18, kebudayaan amerika telah berkembang dari saling pengaruh antara dunia lama dan dunia baru. Sebab lainnya menyangkut sikap-sikap yang kemudian bertumbuh di kalangan para kolonis terhadap eropa.
Eropa selama masa itu sangat sulit mempelajari kebudayaan amerika. Kelebihan teknologi serta kematangan ekonomi telah membuat perubahan-perubahan lainnya berlangsung lebih cepat di eropa. Para ahli sejarah amerika menganggap bahwa segenap koloni merubah adat-kebiasaan inggrisnya secara ajeg selama pertumbuhan mereka. Pada pertengahan abad ke-17, kebudayaan daerah pun mulai menyamai tradisi-tradisi inggris dalam banyak hal.
Dunia politk di inggris dan prancis selama 30 tahun terakhir dari abad ke-17 hampir sama goyahnya dengan dunia politik di amerika jajahan. Ketegangan dan kecemasan orang amerika di penghujung abad ke-17 bersumber dari hal-hal yang sama dengan yang dipermasalahkan orang eropa. Ahli-ahli sejarah amerika juga telah mulai menyadari bahwa keluarga dunia lama tidak memiliki stabilitas dan kontinuitas yang sering dikemukakan oleh sejarawan dalam usaha mereka buat menggaris-bawahi struktur kekeluargaan yang berubah di amerika. Penelitian-penelitian mutakhir mengenai berbagai keributan dan kekacauan di eropa selama abad ke-18 menjunjukkan banyak persamaan dengan berbagai keributan dan kekacauan di daerah-daerah amerika utara jajahan.
Kesulitan yang sama akan dihadapi jika kita mencoba membandingkan system hokum amerika dengan system hokum inggris. Pelaksanaan keadilan di amerika jajahan jelas tidaklah persis sama dengan hokum inggris di London, system hokum amerika yang awal pada umumnya dicangkok dari distrik-distrik propinsi di inggris yang merupakan negeri asal kaum imigran negeri jajahan. Itulah sebabnya mengapa kita bisa membandingkan system hokum negeri jajahan itu dengan kota-kota dan daerah-daerah di inggris dan tidak dengan mahkamah raja di London.  Semua tata cara amerika ini seringkali terbukti berasal dari inggris.
BAB 2
MENCARI KEABSAHAN

Keabsahan ialah keadaan yang sejalan dengan hokum, aturan dan prinsip. Diterimanya keabsahan oleh komunitas terjadi dikala ia membenarkan keyakinan bahwa para penguasa dan lembaga-lembaganya merupakan bentuk-bentuk tata cara dan otoritas yang memadai. Ada berbagai cara dimana kekuasaan dapat di absahkan sehingga ketertiban tercapai : melalui keyakinan akan kemampuan pribadi seorang pemimpin sejati, melalui tradisi yang sudah lama terbentuk dan melalui kepercayaan akan validitas hokum dan keadilan yang berlandaskan pada aturan-aturan yang dibuat secara rasional. Keabsahan di negeri jajahan inggris itu semakin lama semakin tergantung pada sumber-sumber demokratis dan bukan pada sumber-sumber aristokratis.
Pada permulaan abad ke-17, system hokum inggris memerlukan pembaruan besar-besaran. Kerumitan dan kekacauan hokum di inggris ikut menjalar ke daerah-daerah koloni sehingga mengakibatkan kekacauan lebih jauh dalam soal legitimasi di sana. Semua tradisi eropa juga merupakan sumber keabsahan keagamaan yang tidak memadai. Titik berat bagi nilai-nilai puritan amerika di dalam tatanan persetujuan yang saksama antara tuhan dengan manusia, manusia dengan  manusia, tuhan dengan santo-santo pilihannya, menunjukkan semacam perhatian akan dimensi konstitusionil dan hokum dari otoritas keagamaan.
Bermacam krisis keabsahan di amerika pada penghujung abad ke-17 tak lain adalah krisis perubahan. Di saat kelompok-kelompok baru berusaha menemukan cara-cara baru buat berpartisipasi di dalam proses politik, dan di saat nilai-nilai sosial baru sementara berkembang, keabsahan tidak mungkin ditemukan di dalam lembaga-lembaga inggris tradisionil. Dan pada tahun-tahun yang langsung sesudah pemberontakan, beberapa pemerintahan yang paling efektif ternyata bahkan masih kalah stabil daripada pemerintahan-pemerintahan sebelumnya.
Pada akhirnya, sumber legitimasi bagi daerah-daerah jajahan tetap berada pada lembaga-lembaga pemerintahan inggris. Undang-undang daerah jajahan, misalnya belum sepenuhnya sah sebelum memperoleh pengesahan dari Raja Inggris. Perlawanan bangsa inggris terhadap Raja Charles I (1600-1649), yang member kuasa kepada banyak perusahaan amerika, turut melemahkan pemerintahan kolonial yang konstitusionil. Berlawanan dengan semua masalah keabsahan di daerah-daerah koloni, inggris selama lebih dari seabad sesudah 1660 tidak lagi mengalami kesulitan dalam menegakkan pemerintahan yang sah.
Semenjak 1787, orang amerika telah bergantung kepada konstitusi tertulis mereka untuk dijadikan penuntun demi mempertahankan kekuasaan politik yang sah. Selama abad ke-18, semua lembaga pemerintahan utama didaerah jajahan tetap tidka stabil. Dan tidak seorangpun yang tahu bagaimana merumuskan peranan dan identitas yang sesungguhnya dari dewan kolonial. Semua majelis koloni menghadapi sulitnya persoalan mentautkan undang-undang yang dibuatnya dengan system hokum Britania Raya. Di masa-masa tertentu selama paroh pertama dari abad ke-18, monarki memerintahkan dan menekankan agar daerah-daerah jajahan mengatur undang-undang mereka secara sistematis serta membuat kumpulan keputusan-keputusan yang jelas untuk digunakan baik di amerika maupun di inggris.
Konsep keabsahan dan terutama keabsahan hokum sangat banyak dipersoalkan oleh mereka yang membuat, menemukan, atau menerapkan hokum. Di samping hokum serta cara memberlakukannya, berbagai ketentuang lainjuga berbeda penerapannya daripada yang di inggris. Masalah besar yang menyangkut mata-uang kertas dan kredit bank di amerika jajahan ialah tidak adanya keabsahan, dan ini Nampak nyata.
Kaum kolonis di amerika utara juga mempersoalkan keabsahan masyarakat dan individu. Selama jaman penjajahan inggris telah mengirimkan sejumlah penduduknya yang paling tak tunduk pada undang-undang. Itulah sebabnya mengapa banyak orang amerika yang berusaha keras untuk menghilangkan anggapan bahwa sebagian besar kaum kolonis terdahulu adalah penjahat. Orang-orang eropa yang hidup secara yang asli di dunia baru itu menyadari bahwa mereka menghadapi masalah bagaimana memelihara semua kaidah tradisionil dari peradaban dunia lama. Banyak orang beranggapan bahwa standar kemanusiaan terendah ialah yang dimiliki oleh suku Indian amerika. Masalah pembentukan tata-hubungan sosial yang sah di daerah-daerah jajahan bisa juga dikenal kembali pada bidang-bidang yang pokok seperti perkawinan dan keluarga.
Di amerika latin, kaidah status sosial lebih nyata daripada didaerah-daerah jajahan inggris, oleh karena keabsahan sosial dan perseorangan terutama pada warisan seseorang. Selama abad pertama dari kolonisasi spanyol, hokum merupakan factor yang sangat utama, terutama dalam urusan mereka dengan orang-orang Indian. Masalah legitimasi tidak timbul di amerika latin selama periode kolonial seperti yang terjadi di amerika utara. Tatkala meksiko serta daerah-daerah lainnya ditaklukkan, ahli hokum senantiasa hadir guna membenarkan segala sesuatu yang dilakukan oleh sang penakluk.
           Dengan mempertimbangkan berbagai krisis keabsahan di amerika jajahan, bersama dengan kebutuhan yang tak terhindarkan akan kaidah sosial, kelembagaan dan perundangan-undangan serta nilai-nilai, tidaklah mengherankan kalau kaum kolonis berusaha menentang validitas pengawasan Britania Raya atas semua daerah jajahan itu. Kedaulatan merupakan aspek yang sangat penting dari keabsahan perundangan, kita bisa mengerti mengapa hal itu menjadi suatu masalah pokok dalam Revolusi Amerika.  
           James Madison (1751-1836), salah seorang penyusun konstitusi yang kemudian menjadi presiden keempat Negara baru ini, secara langsung dan penuh tanggung jawab menghadapi pertanyaan terpenting yang timbul dari konstitusi baru itu. Selama beberapa abad, semakin banyak orang amerika yang telah menerima anggapan bahwa sumber keabsahan dan kekuatan satu-satunya adalah rakyat sendiri. Sumber kekuasaan yang sah adalah rakyat. Madison yakin bahwa pemerintah itu niscaya akan menguntungkan rakyat, dan jika tidak demikian, rakyat punya hak untuk merubah pemerintahan mereka.
           Adanya konstitusi tertulis tidaklah menjamin adanya kesepakatan penuh mengenai dasar-dasar Negara itu. Pada permulaan abad ke-19, kaum federal dan kaum republic yang merupakan dua kelompok politik besar amerika pada waktu itu telah menerima prinsip bahwa sumber kedaulatan paling pokok ada di tangan rakyat dan bahwa pemerintah hanya bisa bekerja dengan persetujuan mereka.

BAB 3
MASALAH KERAGAMAN YANG TIDAK STABIL
          
           Masalah keabsahan di amerika jajahan diperumit lagi oleh keadaan yang beragam terdapatnya banyak kelompok yang saling berbeda yang masing-masing memiliki kepentingan dan nilai yang saling bertentangan serta bersaing.
           Dua jenis keragaman sedang berkembang. Pertama ialah kelompok-kelompok, sekte-sekte, dan golongan-golongan, yang begitu beragam dan tiba di amerika hampir bertepatan waktunya, yang mendorong dikembangkan dan dilanjutkannya nilai-nilai dan kepentigan-kepentingan yang berbeda yang dibawa oleh masing-masing kelompok itu. Jenis keragaman kedua timbul seiring dengan tibanya gelombang demi gelombang imigran dari banyak generasi, dan ini tidaklah menciptakan keseragaman didalam masyarakat. Kedua jenis keragaman ini cenderung untuk saling memperparah.
           Masih ada lagi sumber-sumber keragaman yang lain. Salah satu factor penyebab ialah ditekankannya kesempatan ekonomi perorangan. Factor lainnya ialah komitmen untuk membela harkat perorangan maupun masyarakat. Ada yang merumuskan masyarakat beragam sebagai suatu masyarakat dimana berbagai kelompok yang saling berbeda tetap terpisah sehingga interaksi serta kesatuan sosial menjadi sulit.
           Sejak dari awal sejarah amerika, perkembangan pemerintahan maupun kebudayaan amerika telah mengarah kepada keseragaman. Tetapi berbagai kebutuhan sosial dan ekonomi amerika yang disertai tersedianya tanah yang begitu luas semuanya telah menggalakkan keragaman. Masyarakat jajahan sifatnya beragam dan tidak stabil. Ada masyarakat yang ditandai dengan keragaman yang stabil, dan ada masyarakat yang ditandai dengan keseragaman yang tidak stabil.
           Amerika latin jajahan juuga memiliki keragaman sosialdan ketidak-stabilan. Di daerah-daerah jajahan inggris itu, keragaman timbul dari imigrasi tak terkendali dari banyak bangsa yang mewakili kebudayaan, agama dan ras yang berbeda-beda. Pada koloni-koloni spanyol, keragamana berkembang sebagai akibat penaklukan yang disusul dengan asimilasi antara ras-ras Indian, spanyol dan afrika, yakni suatu keragaman rasial yang diterima oleh kebiasaan dan hokum.
           Kemajemukan yang tak stabil lebih merupakan cirri abad ke-18 daripada abad ke-17. Penelitian-penelitian mutakhir dari para ahli sejarah sosial telah membuktikan bahwa selama dua atau tiga generasi pertama, semua koloni itu lebih stabil daripada yang sering diperkirakan. Tahun 1640-an kongregasi kehilangan sebagian dari kebebasan dan kemerdekaannya sehingga otoritas keagamaan selanjutnya dipusatkan guna mencegah perpecahan di kalangan agama di daerah itu.
           Denominasionalisme, yakni kecenderungan agama untuk terpecah ke dalam berbagai kelompok yang lebih kecil atau denominasi, merupakan sumbangan amerika yang unik pada sejarah keagamaan, dan bahwa ada kontinuitas di dalam perkembangan denominasi amerika dari kurun kolonial ke kurun nasional.
           Pandangan berbagai kelompok di amerika jajahan cenderung untuk membenarkan dan bukannya menghapuskan individualisme. Pertengahan abad ke-18, ketidak-stabilan yang ditimbulkan oleh keragaman kulturil tampak nyata di seluruh daerah koloni itu. Suatu masalah gawat yang harus lembaga-lembaga pendidikan yang mendapat dukungan dari masyarakat. Berbagai sumber, proses, dan pernyataan keragaman kulturil semuanya menunjang perkembangan kelompok-kelompok yang berbeda di daerah-daerah jajahan itu.
           Banyak orang amerika yang merasa ragu apakah ketertiban dan keamanan dapat dicapai dalam suatu masyarakat besar yang beragam, dan persoalan ini menjadi pertimbangan pokok bagi semua pejabat yang hadir pada Konvensi Konstitusionil pada tahun 1787. Masalah perbudakan, bangsa amerika masih tetap terombang-ambing antara menerima atau menolak adanya keragaman. Gejala keragaman sosial yang tidak stabil ini serupa dengan keragaman politik dimana Negara-negara bagian dan pemerintahan federal berusaha menyeimbangkan perbedaan bidang-bidang otoritas mereka yang berlainan namun saling mendukung.

Bagian II
PEMBAURAN YANG TAK LAZIM
BAB 4
BIFORMITAS: SEBUAH KERANGKA REFERENSI

           Tiap penelitian atas watak, kebudayaan, atau gaya nasional mencakup bermacam pertimbangan kesejarahan. Suatu cara mengatasi penjelasan yang paling berbeda ini boleh jadi adalah merangkai suatu penjelasan yang memungkinkan masuknya semua itu, namun masing-masing punya identitasnya sendiri. Erik Erikson (1902-     ), psikiatris terkemuka, telah menyarankan metode ini sebagai jalan untuk memahami watak nasional. Metode erikson jauh lebih berguna daripada penjelasan kebudayaan yang terlampau sederhana. Salah satu kesulitan dalam mengembangkan suatu metode yang lebih baik adalah kehadiran unsure ketidak-pastian dan ambiguistas secara terus menerus di dalam penulisan sejarah amerika-suatu kenyataan yang sama sekali tidak mengejutkan di dalam suatu kebudayaan khususnya dimana kecenderungan-kecenderungan tak menentu atau saling bertentangan merupakan hal yang sangat mungkin.
           Amerika bukanlah kebudayaan satu-satunya yang ditandai dengan biformitas. Keadaan ini terjadi secara umum, terutama di dalam hal-hal negeri jajahan. Tetapi dalam tiap kebudayaan beragam, ketegangan mengambil berbagai bentuk dan di atas dengan berbagai cara, kalaupun dapat. Secara paradox, kekayaan baru dan amerika ini pada akhirnya merusak perdagangan dan idustri spanyol, dan mengakibatkan runtuhnya kelas pedagang yang sebetulnya sanggup melahirkan kembali dunia perniagaan spanyol. Sekali pemukiman spanyol di dunia baru dimulai, berbagai pertikaian dan hal yang tidak-menentu yang baru pun bermunculan. Yang pertama dan semua ini muncul semata-mata dari kenyataan bahwa para penakluk dan kolonis berasal daari kota-kota kecil dan besar, dan sekarang diminta menangani kegiatan-kegiatan pertanian diladang. Konflik kedua muncul karena para penakluk seringkali menjumpai diri mereka terombang-ambing antara keinginan mereka sendiri akan emas dan kebebasan dan tujuan pemerintak spanyol untuk memaksakan system kerajaan yang terpusat.
           Pengaruh praktek-praktek dan kebutuhan-kebutuhan ekonomi yang baru ternyata lebih kuat dalam menentukan tingkah laku sosial dari pada ketentuan-ketentuan penguasa koloni. Semua masalah ini mulai di atasi ketika pemerintah menyadari bahwa praktek-praktek normal tidaklah harus selalu berasal dari ketentuan para penguasa.
           Di amerika serikat, kondisi manusia telah diberi kebebasan luar biasa untuk terus menerus beralih atau berkisar ditengah-tengah sejumlah alternatif. Bangsa amerika juga mempunyai sikap yang bertentangan mengenai kerja kasar dan kerja intelektuil. Jika sukses materil telah dicapai sebagai hasil dari usaha intelektuil, pada umumnya ia memperoleh penghargaan dan imbalan. Bangsa amerika tak sanggup menghindarkan ketegangan lama antara otoritas sosial dan individualitas dari kaum intelektuil dan kaum pekerja.
           Biformitas begitu luas tersebar dalam kehidupan bangsa amerika, alasannya :
·      Selama kurun kolonial itu, inggris mengalami sendiri berbagai ketegangan serta kecenderungan tak menentu.
·      Proses pemindahan kulturil dan imigrasi.
·      Amerika serikat adalah suatu Negara yang semua warganya terdiri dari penduduk migran.
·      Ketidak-pastian sikap orang inggris serta kebijaksanaan-kebijaksanaan kerajaan selama jaman kolonial.
·      Amerika adalah yang menjanjikan sebagaimana ditulis oleh penyair Archibald macleish (1892-    )
·      Erat hubungannya dengan alasan kelima, prinsip-prinsip dan pandangan-pandangan amerika begitu mulia sehingga orang sulit  untuk senantiasa bersandar padanya secara tetap.
·      Alasan ketujuh dan kedelapan dari biformitas amerika berhubungan erat satu sama lain. Mobilitas fisik dan sosial yang pesat telah menggerakkan oranng dari suatu tempat ke tempat lain dan dari satu situasi ke situasi lain secara cepat, membiarkan mereka terbenam didalam berbagai keadaan yang tak diharapkan dan mengharuskan mereka memadukan alternative-alternatif yang salling berlawanan.
·      Suatu pertentangan yang tak terdamaikan antara alam dengan peradaban.
           Akhirnya bangsa amerika telah dipaksa untuk memadukan individualisme dengan keserasian, dan karenanya telah mengembangkan suatu kombinasi yang jarang ada, yakni individualisme kolektif.
BAB 5
PERTENTANGAN, KRISIS DAN PERUBAHAN : LATAR BELAKANG KOLONISASI INGGRIS

           Di inggris, khususnya selama lebih dari 60 tahun, terdapat perpecahan agama, politik, dan sosial yang besar. Oleh karena bangsa inggris terpecah-pecah, baik sikap pemerintah maupun rakyat dipaksa untuk menyesuaikan dengan semua keadaan yang baru. Di eropa, terutam inggris harus mengalami begitu banyak perubahan pada akhir abad ke-16 dan pada awal abad ke-17 bahwa di sana terdapat tiga gerakan perubahan besar yang sedang berlangsung, yang masing-masingnya ditandai dengan ketidak-pastian dan sifat yang tidak-menentu. Krisis yang menyeluruh di eropa selama permulaan abad ke-17 juga tersa di inggris.
           Ada beberapa cara untuk menunjukkan betapa luasnya krisis di inggris. Suatu indikasi adalah bahwa, antara akhir abad ke-16 dan pertengahan abad ke-17, para penyair dan dramawan inggris menjadi sangat disarati dengan paradox sebagai suatu bentuk kesastraan.
Kehidupan intelektuil pada awal abad ke-17 inggris ditandai dengan ketidak-pastian dan kegelisahan. Selama abad ke-17, di inggris terjadi pemisahan antara pikiran dengan perasaan , antara yang rasionil dengan yang mistik, antara yang mementingkan keduniaan dengan yang mengutamakan soal-soal spirituil.
           Disamping semua ketidak-pastian spirituil ini, cirri-ciri paradox juga tampil pada waktu itu dalam pemikiran politik dan cirri ini lah yang kemudian sangat berpengaruh dalam asal mula peradaban amerika. Salah satu ketidak-pastian ini ada hubungannya dengan organisasi gereja. Berbagai ketegangan dan paradox yang rumit pada abad ini bukanlah semata-mata sebagai akibta dari pikiran dan jiwa yang terganggu. Dunia aristocrat inggris mengalami sejumlah perubahan yang besar pada jaman ini, yang sejalan dengan pemerintahan Ratu Elizabeth (1533-1603) dari tahun 1558 sampai 1603. Nilai-nilai kapitalis ditandai dengan prinsip memajukan diri sendiri, berdiri sendiri, hemat, kerja keras, kompetisi, dan keyakinan bahwa kemiskinan adalah pertanda dari kelemahan moral.
           Pada tahun menjelang 1640, ketika perang saudara pecah, majelis parlemen inggris yang dikenal dengan nama majelis rendah, seringkali tak sanggup merumuskan secara jelas otoritas dan kekuasaanya. Pada tahun 1660, monarki dibangun kembali di inggris dan Charles II (1630-85), Putra Charles I, menjadi raja dan memerintah hingga wafatnya. Selama pemerintahannya, monarki itu bertekad untuk membangun kembali masyarakatnya yang hancur.
           Kaum imigran selalu tertarik pada daerah-daerah jajahan, sementara pada kenyataannya mereka seringkali adalah orang-orang yang ditolak oleh eropa. Banyak orang pergi ke amerika terutama buat menghindari sekian konflik dan ketegangan di inggris. Pembentukan koloni-koloni membantu meredakan ketegangan itu baik secara nyata maupun secara anggapan, antara kelebihan penduduk dengan terlalu sedikitnya lapangan kerja di inggris. Namun, pada kenyataannya, kaum kolonis tidak hanya gagal menghapuskan semua ketegangan ini, tetapi bahkan meneruskannya di samping menciptakan sekian ketegangan baru.
           Masalah terjadi lebih rumit lagi karena orang-orang eropa semenjak dahulu telah mempunyai sikap ganda terhadap bangsa-bangsa bukan barat. Dikalangan orang inggris yang berpindah ke koloni-koloni itu, tentunya dikalangan kaum Puritan yang berpindah dan juga beberapa dari yang tidak, terdapat banyak ketegangan psikologis yang kuat. Mereka merasakan suatu krisis moral yang tak bisa teratasi dalam masyarakat inggris. Jalan keluar satu-satunya yang terang bagi banyak orang adalah meninggalkan inggris dan berpindah ke amerika.
           Banyak yang meninggalkan inggris dengan keyakinan bahwa tuhan akan menghancurkan negeri korup yang mereka tinggalkan. Dengan semua keadaaan ini, sama sekali tidak mengherankan kalau berbagai ambiguitas dan salah pengertian timbul mengenai “perkebunan asing” nama yang diberikan beberapa orang terhadap koloni-koloni dan tata-hubungannya dengan otoritas pemerintah inggris. Dibanding dengan keadaan koloni lainnya, berbagai ketegangan dan ambiguitas di amerika jajahan sangat terasa di Pennsylvania, koloni yang didirikan oleh William Penn (1644-1718).

BAB 6
KECENDERUNGAN-KECENDERUNGAN TAK MENENTU DI AMERIKA JAJAHAN
1.   Lingkungan, sumberdaya, dan imbalan
           Pandangan umum tentang kehidupan permulaan di amerika adalah bahwa lingkunga di dunia baru terutama mempunyai banyak pengaruh yang merusak terhadap aspirasi-aspirasi kaum imigran. Perpindahan dunia baru juga seringkali berarti memasuki lingkungan kehidupan yang lebih mudah dan bukannya yang lebih sukar.
           William Byrd tidak begitu merasa pasti dengan nilai-nilai relative dari kehidupan primitive dan kehiudpan beradab. Cita-cita dan mitos-mitos dari pedesaan sangat berlawanan dengan pemborosan pertanian. Paradox tentang kemiskinan di tengah-tengah kekayaan juga menjadi perhatian para kolonis. Perkembangan lainnya dalam masyarakat koloni adalah pembentukan aristokrasi golongan menengah-mereka yang berasal dari kalangan kelas menangah, namun yang tujuan utamanya adalah kekayaan melimpah dan status yang tinggi.
2.   Pemerintahan dan dunia politik
           Jon Winthrop membentuk koloni Massachusetts-nya pada abad ke-17 dengan berlandaskan pada otoritas dan kebebasan yang terpisah namun saling berkaitan. Lembaga-lembaga politik serta struktur perundang-undangan tiap daerah koloni sama dengan yang ada di inggris, fungsinya di dunia baru berbeda.
           Penolakan terhadap pemerintahan kolonial inggris mulai Nampak sesudah 1670, dan semakin jelas pada tahun 1685-1690. Pada permulaan abad ke-18, bangsa amerika juga semakin menjadi lebih sadar akan keadaan mereka yang terus menerus bergantung pada inggris. Pertengahan abad ke-18, demokrasi aristokrasi menjadi tidak lagi begitu aristokratis. Lembaga pemerintahan lainnya, yang tidak begitu diperhatikan oleh para sejarawan menyingkapkan berbagai hal yang tidak menentu yang janggal sifatnya di awal kehidupan politik amerika.
           Idealisme praktis merupakan suatu keharusan bagi kaum kolonis karena mereka terpaksa menyesuaikan diri dengan lingkungan agar bisa bertahan hidup di rimbaraya, namun pada permulaan sekali mereka memerlukan sikap idealistis guna terjun ke tengah-tengah rimbaraya. Koloni-koloni yang pada mulanya sangat idealistis tetapi meskipun demikian paling akhir dalam menghapuskan persyaratan hak milik untuk memiliki hak suara.
3.   Agama dan gereja
           Berbagai ketegangan ini menyangkut masalah-masalah keagamaan, hubungan gereja-negara, dan sekian pertikaian antara nilai-nilai sosial yang berubah dan kebutuhan untuk mempertahankan tradisi dan stabilitas. Meskipun persetujuan spirituil antara tuhan dengan manusia dan persetujuan gereja antara manusia dan manusia dianggap saling menguatkan, pertentangan antara keduanya meluas setelah pertengahan abad ke-17. Untuk menciptakan gereja jajahan yang mantap disamping gereja spirituil yang murni, gereja yang segenap anggotanya hanya terdiri dari mereka yang telah dialih agamakan, telah menimbulkan situasi yang tak stabil dan terkadang sulit. Masalah mempertahankan kemurnian gereja secara spirituil dengan sekaligus berusaha menarik sebanyak mungkin anggota masyarakat mulai menghadapi rentetan krisisnya pada tahun 1662 dengan half-way covenant.
           Ada dua bagian hakiki dari puritanisme abad ke-17: unsure mistik dari jiwa yang disebut kesalehan, dan unsure yang menghendaki pengertian melalui nalar. Kesalehan, yang menekankan pengalaman keagamaan perorangan adalah salah satu dari cirri permanen ini. Suatu ketegangan yang berhubungan dengan pertikaian antara ketertiban dengan kebebasan, antara mereka yang bermaksud mempertahankan ketertiban moril sepenuhnya dengan mereka yang menekankan perhatian pada usaha mencapai kebebasan moril yang sempurna.
           Beberapa biformitas dalam gaya spiritualitas amerika dewasa ini dapat ditelusuri hingga pada sejumlah keyakinan keagamaan di jaman kolonial. Reinhold Niebuhr (1892-1972), pendeta amerika serta tokoh agama, pernah berkata bahwa bangsa amerika adalah yang paling religious, namun juga paling mementingkan keduniaan di antara bangsa-bangsa barat.



4.   Masyarakat-masyarakat koloni
           Guna mengekalkan legenda amerika sebagai negeri kebebasan dan kesempatan bagi mereka yang tertindas. Di New England kaum kolonis merasa sulit menciptakan keabsahan yang sejati bagi kepemimpinan di tengah-tengah masyarakat aristocrat kelas menengah yang giat berusaha. Sesudah masa pemukiman yang singkat di pedesaan pantai Massachusetts, banyak imigran yang berpindah ke pedalaman koloni untuk guna membentuk masyarakat-masyarakat kecil yang tetap.
           Kaum kolonis dari dulu telah menghubungkan idea-idea kemalasan, kemandulan dan immoralitas dengan pengakuan bahwa banyak yang harus dilakukan dan dipelajari didalam masyarakat.
5.   Jiwa, sikap, dan moral 
           Ada yang beranggapan bahwa orang Indian harus dibasmi habis-habisan, tapi ada yang berpendapat bahwa adalah tugas orang kulit putih untuk memberadabkan mereka. Masalah orang kulit hitam di amerika, kita perlu menyadari bahwa sikap orang inggris pun sama saja kaburnya dengan sikap para kolonis terhadap mereka. Sumber ketegangan utama terletak di bidang tingkah laku dan hubungan seksuil. Tak ada orang kulit putih yang percaya perlunya percampuran kedua ras.
           Kegagalan para kolonis untuk menerima bahkan orang negro yang bukan budak untuk masuk ke masyarakat mereka terutama tampak paradoksal di negeri yang menurut ukuran eropa merupakan negeri dimana semua kesempatan terbuka.

BAGIAN III
POTENSI BIFORMITAS
BAB 7
BERBAGAI AMBIGUITAS REVOLUSI AMERIKA

            Dari tahun 1739-1763 suatu perdebatan sengit sedang berlangsung di inggris menegenai tata hubungan negeri ini dengan klaimnya sendiri serta klaim negeri-negeri lain atas amerika. Perdebatan itu mencakup persoalan-ersoalan seperti apa manfaatnya mengadakan perang dengan prancis dan spanyol dan bagaimana cara yang paling efektif untuk melaksanakan perang demikian. Beberapa kebijaksanaan dipertimbangkan, ada yang menghendaki intervensi ke luar negeri, yang lainnya menghendaki isolasi internasional.
Sesudah perang prancis dan Indian (1754-63), suatu peperangan dimana inggris mengalahkan perancis dan merebut apa yang sekarang dikenal sebagai kanada, inggris memiliki kekuatan militer yang besar di amerika. Pada pertengahan tahun 1760 an, kehendak kerajaan inggris banyak dinilai tidak sejalan dengan tujuan-tujuan utama dari para kolonis, yang masing-masing mempunyai dalih konstitusionil buat mendukung pandangannya. Hal itu juga menimbulkan berbagai tanggapan yang kabur terhadap kebijaksanaan-kebijaksanaan itu,
Pada tahun 1775, kongres continental, yang mencakup wakil-wakil dari ketigabelas koloni, memberikan tanggapan yang tidak konsisten mengenai perubahan-perubahan dalam berbagai kebijaksanaan inggris terhadap amerika. Ketidakpastian didalam kongres continental semata-mata menggambarkan keadaan-keadaan setempat. Orang-orang tersebut yang pada akhirnya bertekad untuk merdeka terlibat dalam kebingungan untuk membela pemberontakan tapi sekaligus membela keabsahan.
Para kolonis berhasrat untyk menjadi milik mereka dari ancaman inggris. Mereka berharap bisa kembali pada keadaan politik dan sosial sebelum 1763 dan perang perancis Indian. Walaupun para kolonis amerika menekankan bahwa mereka hanya bermaksud kembali kepada keadaan sebelum tahun 1763, mereka dengan tidak terelakkan lagi bergerak kea rah revolusi.
Konsep kesamaan yang semakin dipandang penting begitu revolusi berkembang juga memiliki berbagai hal yang tidak menentu. Bagi sejumlah orang itu berarti kesamaan kesempatan yang dengan demikian mengacu pada adanya perbedaan-perbedaan sosial. Beberapa orang amerika juga menyadari bahwa mereka terpaksa harus memadukan kekayaan dengan kemerdekaan, dan memanfaatkan kemakmuran bagi hal-hal yang luhur.
Pada tahun 1776, ide-ide politik yang kabur telah berkembang menjadi teori-teori yang lebih radikal yang seolah-olah mengancam hak milik perorangan dan otoritas pemerintah. Kaum liberal amerika tetap menginginkan kebebasan perorangan serta hak-hak atas itu telah menyaksikan sejumlah ketegangan yang mendasar didalam deklarasi kemerdekaan amerika tahun1776. Dari revolusi muncullah semacam kebanggaan yang luar biasa dalam tubuh tentara rakyat dan dalam angkatan bersenjata amerika yang resmi.
Konstitusi amerika tahun 1787 karenanya, sama dengan konstitusi Negara bagian 1776-80 sebelumnya, mempunyai sifat coba-coba dalam menciptakan dua badan. Para federalism menginginkan dua tingkat pemerintahan, antara lain karena hakiki dari masalah-masalah yang dihadapi oleh bangsa baru itu tak lama sesudah kemerdekaan. Salah satu dari persoalan yang terpenting ialah apakah pemerintahan daerah harus kuat ataukah pemerintahan nasional yang harus diberi otoritas besar.
Menurut kaum federalis, pemerintahan federal baru yang berkembang di amerika perlu menjalankan suatu demokrasi campuran atau demokrasi berimbang. Sikap orang amerika terhadap eropa mengalami perubahan yang sangat pesat pada akhir abad ke 18. Pada tahun 1770 kaum kolonis merumuskan amerika sejalan dengan penolakan mereka terhadap tatacara dan kebiasaan eropa.
Para pendiri Negara ini bekerja keras guna memelihara dan membangun di atas hasil-hasil yang telah dicapai oleh revolusi amerika. Selama 30 tahun mereka telah terlibat dalam apa yang disebut oleh seorang sejarawan amerika sebagai semangat idealism praktis.
Namun dalam berfikir tentang politik dan masyarakat, para pendiri amerika olak dari posisi-posisi yang paradoksal. Mereka melihat bahwa manusia itu rakus, suka menyeleweng bertdan terutama hanya memikirkan diri sendiri. Karenanya suatu pemerintah  harus cukup kuat buat mengawasi nafsu-nafsu yang berbahaya ini.
Bangsa baru ini, bangsa amerika merupakan perpaduan antara disiplin dengan kemalasan. Walaupun demikian semua lembaga politik mereka memang baru, lembaga-lembaga nasional yang kuat dan diimbangi oleh semua perpaduan antara kepercayaan dan kecurigaan, kebahagiaan, seberapa pemerintahan yang baru itu akan kembali.

BAB 8
PERKEMBANGAN KEBUDAYAAN AMERIKA: 1825-1925

            Selama abad ke 19, amerika berkembang menjadi suatu bangsa yang dewasa. Masalah keabsahan serta keragaman yang tak stabil menjadi lebih terkuasai pada abad ke 19 sebab pembakuan dan presiden telah ditetapkan oleh konstitusi.
Antar revolusi (1776-83) dan perang saudara (1861-65), dua pndangan yang berbeda mengenai penggabungan Negara-negara bagian dalam federasi seringkali bertentangan. Beberapa pihak beranggapan bahwa pemerintahan nasional berkembang lambat dalam meninggalkan pengalaman colonial yang kemudian kemerdekaan dimenangkan.
Ketidakstabilan politik yang terjadi karena keragaman sosial nampaknya juga mengancam keabsahan pemerintahan yang baru. Bangsa amerika juga menghargai pendidikan yang diterima lewat pengalaman dan kerja, dan bukan yang didapatkan di sekolah.
Sikap orang amerika terhadap orang india juga sulit dirumuskan, karena terkadang kabur dan tak menentu. Kedudukan orang Indian yang kabur itu kemudian menampilkan suatu bentuk ambiguitas lainnya. Perang saudara antara Negara bagian utara dan selatan dan masa panjang yang menuju ke paeristiwa itu, meneruskan warisan kemiliteran revolusi amerika yang kabur.
Peranan dan pengaruh biformitas bisa dipahami dengan meneliti beberapa urutan generasi dimulai dari perempat kedua abad ke 19. Selama tahun-tahun 1830 an dan 1840 an bangsa amerika mulai mempertanyakan nilai kemakmuran ekonomi. Pertumbuhan dan pembagian kekayaan yang mengejutkan menyebabkan manusia mempertimbangkan kembali tata hubungan antara kemajuan kebendaan dengan keterikatan amerika pada prinsip-pronsip yang mendasari pembentukannya.
Ada suatu ambiguitas yang sangat khas amerika mengenai apakah batas-batas pemerintahan diambil dari rumusan-rumusan konstitusi yang tertulis, ataukah dari prinsip-prinsip hukum alamnya yang ada. Suatu pemberontakan telah berlangsung di antara kaum tani semenjak tahun-tahin 1870 an, dan pertentangan itu terutama berkisar pada berbagai ketegangan antara cita-cita dan kenyataan harapan dan fakta.
Pada tahun 1900, ketegangan-ketegangan antara komunitas pengusaha dan golongan amerika yang lain kelihatannya merupakan persoalan utama negeri itu. System nilai yang lama dengan yang baru saling berhadapan. Pembaharuan pada abad ke 20 adalah contoh yang baik pemberontakan moderat. Karena rasa tak bahagia kelas menengah bertumbuh tepat ketika kelas sosial ini semakin meningkat jumlahnya dan semakin banyak kekayaannya.
Selama tahun-tahun kemudian dari progresivisme, sebagian besar dari hal-hal yang tidak menentu itu Nampak semakin jelas bagi para peninjau kontemporer. Suatu persatuan baru terjadi di kalangan partai democrat antara 1910 dan 1916 yang menggabungkan selatan yang bercorak pertanian dengan utara yang bercorak industry.


BAB 9
PERADABAN YANG BERARTI GANDA

Tokoh-tokoh pemerintahan dibawah empat kali masa kepresidenan Roosevelt adalah idealis-idealis praktis yang sekalipun demikian tetap mempunyai cita-cita dan tujuan-tujuan sendiri untuk suatu corak masyarakat yang baru.
Orang amerika yang mengamati negeri itu pada tahun-tahun 1930 an melihat bahwa perlengkapan produksi yang efisien dari bangsa itu masih berada dalam keadaan sempurna, sehingga kesanggupannya untuk menghasilkan masih belum terganggu.
Selama awal-awal tahun 1940 an, ketika perang dunia II sedang berlangsung dan dunia terbagi antara sekian keyakinan politik yang saling bersaing, liberalism nampaknya tumbuh kian subur dalam keadaan yang sesungguhnya bisa menghancurkannya. Pada beberapa kesempatan selama masa itu, sejarawan amerika carl becker (1873-1945) mengemukakan apa yang ketika  itu nampaknya merupakan pertanyaan kritis bagi demokrasi amerika.
Dalam tahun-tahun semenjak perang dunia II, tata hubungan amerika dengan dunia luar terutama telah ditandai dengan berbagai biformitas dan hal-hal yang tidak menentu. Gambaran peradaban amerika di dunia merupakan suatu pokok pembicaraan yang harus dipersoalkan secara hati-hati. Bagi bangsa-bangsa lain, jenis demokrasi amerika Nampak bisa terjangkau tapi tidak begitu diinginkan, sementara kekayaannya Nampak sangat diinginkan.
Masalah yang masih juga terdapat dikalangan orang amerika adalah mengenai legalisme dan keabsahan. Tak banyak negeri yang telah mempercayakan kekuasaan kepada pengadilan seperti yang diberikan oleh rakyat amerika. Di bidang industry dan keuangan, perubahan-perubahan terakhir telah menimbulkan lebih banyak dan bukannya berkurang hal-hal yang tidak menentu.
Dunia seni lukis amerika juga telah menunjukkan sejumlah ketegangan. Mereka telah memadukan kritik sosial dengan senilukis realistis yang modern. Sehubungan dengan kebudayaan popular, kecenderungan nampaknya menuju pada kebetulan yang disengaja. Bangsa amerika cenderung mengagumi orang-orang yang sanggup melakukan banyak hal dengan baik.
Hasrat orang amerika untuk maju dan berubah telah diambil dengan hasrat kuat yang sama untuk kembali pada jaman yang lebih lambat dan lebih tenang. Amerika serikat telah menghasilkan keberlimpahan, tapi bukan pemenuhan. Kota-kota besar amerika telah menghasilkan keberlimpahan, tapi bukan pemenuhan.
Ada ketegangan yang tak habis-habisnya antara kekuasaan politik dengan individualisme didalam sejarah amerika. Keistimewaan semua lembaga amerika pada keadaannya yang terbaik ialah dalam menemukan suatu wadah dan dapat dipakai bagi mereka yang menghendaki perubahan dan mereka yang menentangnya.
Sumber biformitas terbesar dalam kehidupan di amerika adalah keragaman yang tak stabil sejauh yang berhubungan dengan masyarakat, politik, dan kebudayaan. Begitu kelompok-kelompok imigran dirubah oleh pengaruh-pengaruh yang saling berbeda dalam masyarakat amerika, mereka pun kehilangan banyak dari cirri-ciri semula, meskipun mereka masih mempertahankan sejumlah tatacara dan kebiasaan tradisionil yang membedakan mereka dari eklompok-kelompok masyarakat yang lain.
Disebabkan oleh semua ketidakpastian amerika in, orang seorang terkadang sulit untuk mengambil keputusan dengan cepat. Oleh karena banyaknya biformitas di negeri mereka, bangsa amerika juga cenderung untuk berkompensasi yang berlebih-lebihan tanpa niat untuk berbuat demikian. Sebagai contoh ketegangan adalah antara alam dan peradaban, sesudah penyelewengan dan kecerobohan yang berlangsung secara turun temurun, banyak orang amerika mulai menghargai nilai dan keindahan spiritual dari rimbaraya amerika. Dapat dikatakan bahwa negra Amerika serikat telah sampai pada suatu keadaan nasional yang nampaknya tidak hidup dan tidak mati.